Kata wakaf sudah lama akrab bagi umat Islam. Sedikit demi sedikit wakaf sudah mulai berkembang. Semula, wakaf yang dikenal masyarakat luas yaitu meliputi 3 M, masjid, musala dan makam. Wakaf dalam istilah syariat adalah menahan hak milik atas materi harta benda dari pewakaf. Wakaf bertujuan menyedekahkan manfaat untuk umat Islam atau bagi penerima wakaf yang telah ditetapkan pewakaf.

Kehadiran pengelola wakaf di Indonesia tentunya diharapkan mampu memberikan perubahan signifikan. Tepat hari ini, Selasa (13/7/2021), Badan Wakaf Indonesia (BWI) berusia 14 tahun. Tema Hari Lahir tahunini adalah Sinergi untuk Negeri, Wakaf untuk Kesejahteraan, Dakwah, dan Kemartabatan.

Seperti disebutkan dalam https://www.bwi.go.id/, wakaf produktif adalah sebuah skema pengelolaan donasi wakaf dari umat, yaitu dengan memproduktifkan donasi tersebut, hingga mampu menghasilkan surplus yang berkelanjutan.

Wakaf Produktif dapat berupa benda bergerak, seperti uang dan logam mulia, maupun benda tidak bergerak, seperti tanah dan bangunan. Surplus wakaf produktif inilah yang menjadi sumber dana abadi bagi pembiayaan kebutuhan umat, seperti pembiayaan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang berkualitas.

Wakaf produktif itu harus menghasilkan. Karena wakaf dapat memenuhi tujuannya jika telah menghasilkan, di mana hasilnya dimanfaatkan sesuai dengan peruntukannya. Perlu upaya secara konsisten untuk mengubah cara pandang sebagian masyarakat tentang wakaf. Literasi wakaf produktif kepada publik harus ditingkatkan. BWI sebagai badan resmi telah menggandeng banyak pihak untuk mensosialisasikan wakaf produktif.

Beberapa contoh wakaf produktif yang sudah berkembang di antaranya wakaf lahan pertanian, wakaf hewan ternak, wakaf sarana air, wakaf pendidikan, wakaf kesehatan dan sebagainya. Sebagian umat Islam sudah mulai menerapkan wakaf produktif.

Pengelolaan lahan pertanian, hewan ternak dan sarana air dimanfaatkan untuk kepentingan umat. Cara mengelola dengan merawat potensi-potensi itu dan hasilnya digunakan untuk kepentingan bersama.

Sebelum berwakaf, umat Islam harus mengetahui rukun wakaf terlebih dahulu. Di dalam Kitab Raudhatut-Thalibin, Imam Nawawi menyebutkan ada empat rukun wakaf yaitu Al-waqif (orang yang mewakafkan), Al-mauquf (harta yang diwakafkan), Al-mauquf ‘alaih (pihak yang dituju untuk menerima manfaat dari wakaf itu) dan shighah (lafaz ikrar wakaf dari orang yang mewakafkan).

Perlu edukasi mengenai rukun dan syarat wakaf kepada masyarakat luas. Sehingga, pemahaman mereka tentang wakaf semakin berkembang. Ada syarat-syarat wakaf yang ditentukan baik bagi orang yang berwakaf, harta yang diwakafkan , orang yang menerima manfaat wakaf dan syarat-syarat shigah atau lafaz ikrar wakaf).

Pengentasan kemiskinan dengan memaksimalkan potensi-potensi wakaf harus terus diangkat. Harapan kita bersama agar pengelolaan wakaf secara profesional dapat mengentaskan kemiskinan secara signifikan.

(Dosen Prodi Ekonomi Syariah STAIMAS Wonogiri, Makhda Intan Sanusi, S.H.,M.E.)

Opini ini telah dimuat dihttps://www.areanews.id/  pada Selasa, 13 Juli 2021 https://www.areanews.id/read/13/07/2021/wakaf-produktif-dan-pengentasan-kemiskinan/

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *